Indiemusic – Phonetic adalah kelompok musik indie asal Bandung dengan irisan warna musik antara alternatif-pop dan electronic dance-rock. Beranggotakan Ario (vokal dan gitar), Amen (gitar dan synth), Aria (drum dan squencer), dan Icey (bas dan synth), Phonetic menjadi tempat mereka meramu gagasan musik yang punya daya tarik dan ciri khas tersendiri. EP / Mini Album berjudul Hope, Made My Day yang mereka rilis pada 5 November 2021 secara virtual menjadi kontinuitas dari perilisan single terdahulu mereka pada bulan Agustus 2021 kemarin. Dibalut lengkap dengan nuansa electronic dance-rock, terdengar dari cara mereka memilih jenis ketukan, selipan-selipan, fills-in, hingga aneka shouts & chants yang semarak. Beberapa hal yang disebut barusan memperlihatkan bagaimana proses kematangan musikal yang Phonetic coba usung sebagai entitas baru.

Dirilisnya Hope, Made My Day, Phonetic bertenggang agar karya-karyanya kelak melekat di kalangan remaja-dewasa, para pecinta musik di rentang usia 18-35 tahun

Sepakat dengan linier notes yang ditulis oleh Agha Kharisma dalam siaran pers yang diterima redaksi DCDC, dalam EP yang terdengar catchy tersebut kami mendapatkan kesempatan istimewa menyimaknya secara berurutan, dimulai dengan nomor pertamanya “Let Me” yang seolah-olah seperti sebuah perkenalan tanpa basa-basi dari Phonetic, langsung ke telinga sedari awal lagu mengalun. Disusul “Make It Better”, “Somebody Like You” dan “Stay” yang dihiasi simfoni sejajar dan sinkron. Konsep yang berani ditawarkan oleh Phonetics memberikan kesan musik mereka secara gamblang. Setiap bagian kecil dari lagunya diselipkan formula segar dan bertenaga. Konsep yang terbilang cukup jarang terdengar belakangan ini. Musik Phonetics ibarat produk impor dari musisi flamboyant asal Eropa atau Amerika Serikat.

Dan lagi, mengutip dari Agha Kharisma, “Namun, jika ternyata konsep musik selugas ini justru hadir dari kreator Tanah Air, akan menarik untuk mendekat sejenak dengan ‘masakan’ satu ini: sebuah mini album berjudul Hope, Made My Day, dari band baru asal Kota Bandung, bernama Phonetic.”

Meramu musik yang langsung mengajak mulut (tanpa sadar) untuk turut terbawa-bawa mengikuti bagian-bagian lagu bukan perkara mudah. Sedikit musisi yang piawai dalam mencipta karya yang otomatis memantik sistem indera pendengarnya. Phonetics sukses melakukannya. Mulai dari riff gitar, unsur funk yang mendorong tubuh untuk berdansa, diibarengi ketukan drum yang tegas namun kaya irama, lapisan-lapisan hook yang masih terasa ‘indies’, hingga gaya bernyanyi yang repetitif dalam melantunkan tonal-tonal easy listening.

EP Hope, Made My Day hadir tidak hanya terdiri dari berbagai susuna audio semata yang tidak hanya dipenuhi rancaknya suara dan segar dari segi warna musik saja. Sadar atau tidak, segera terasa bahwa elemennya ‘diaduk’ dengan tata cara yang baik, sehingga besatu-padu di dalam sebuah atmosfir bunyi, disertai munculnya perasaan bagi siapa saja yang mendengarkannya dihinggapi rasa penasaran untuk menyaksikan Phonetic secara live.

Tanpa bermaksud meng-generalisir atau menyempitkan pemaknaan akan suatu karya musik, EP Hope, Made My Day adalah sapaan hangat dari Phonetic berisi layanan audio bernuanasa elecetric dance-rock, sebuah gaya musik yang populer di zaman lawas. Phonetic tetap membalut genetika musiknya dengan pendekatan modern-attitude yang juga disukai segmen-segmen di luar dance rock, funk, dan soul atau jenis turunan musik dari era disko. Jika menyimak dengan seksama, hal yang dimaksud adalah hadirnya kreasi desain suara berjenis overdrive, reverb, dan vocoder dalam takaran yang cukup, sehingga Hope, Made My Day tetap universal.

Dirilisnya Hope, Made My Day, Phonetic bertenggang agar karya-karyanya kelak melekat di kalangan remaja-dewasa, para pecinta musik di rentang usia 18-35 tahun. Ditambah dengan adanya literasi yang mengandung vibrasi positifi yang disisipkan di dalamnya, yakni berupa beberapa potongan lirik optimistis dan semangat penuh percaya diri. Persuasi musikal ini tak hanya sebagai pemoles saja melainkan sebagai daya tarik yang diharap memiliki sumbangsih terhadap narasi publik hari ini, bahwa setiap perbaikan hanya akan hadir dari upaya diri sendiri, tidak menunggu pihak lain. Sebuah sikap mental yang kemudian dimanifestasikan dengan suka cita ke dalam lirik.

Phonetic yang berasal dari Bandung (kota yang dikenal luas sebagai episentrum genre-genre musik tertentu, sebagai simbol komune atau tren) terlihat senada dengan energi percaya diri dari ‘jargon’ di atas. Phonetic dalam manuver debutnya justru muncul ke permukaan sebagai entitas baru yang tidak menyodorkan produk musik beralaskan warna-warna yang sedang ramai di suatu kalangan atau tempat.

Walau tak dipungkiri, masih akan muncul bibit-bibit lokal atau global yang juga memiliki kesamaan ‘bumbu dasar’, Phonetic layak mendapat tempat di hati music enthusiast, khususnya Indonesia karna keunikan mereka dalam meramu musik. Serta misi kudus mereka untuk turut mengembangkan gelombang baru musik pop sebagai brand atau komoditas baru di industri musik yang kian heterogen.

“EP “Hope, Made My Day” dari Phonetics terasa sangat ideal untuk memutarnya kencang-kencang di hari-hari musim penghujan yang sendu. Sebuah santapan ‘hangat’ untuk mencerahkan hari.” – Franco Londah.

Sumber : https://www.djarumcoklat.com/coklatnews/hope-made-my-day-ep–perkenalan-tanpa-basabasi–dari-phonetic

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here